Mundur atau Dimundurkan: Saat Legislator Kehilangan Rasa Malu

Pranoto, Stepanus Sigit (2025) Mundur atau Dimundurkan: Saat Legislator Kehilangan Rasa Malu. Mundur atau Dimundurkan: Saat Legislator Kehilangan Rasa Malu.

This is the latest version of this item.

[img] Text
Laporan Publikasi Artikel Media Massa Media Sumatera_Repositori.pdf

Download (378kB)
Official URL: https://mediasumatera.id/

Abstract

Opini ini mengkritisi hilangnya budaya malu di kalangan legislator Indonesia, terutama dalam merespons gelombang protes publik terhadap kebijakan gaji DPR dan pernyataan tidak simpatik sejumlah anggota dewan. Penonaktifan beberapa kader oleh partai politik dipandang bukan sebagai wujud kesadaran moral, melainkan sebagai respons terhadap tekanan publik dan kalkulasi politik. Dengan merujuk pada konsep budaya malu menurut Ruth Benedict, tulisan ini menyoroti absennya tanggung jawab moral dan kepekaan etis di antara para pejabat publik, yang lebih memilih bertahan atau mencari pembenaran ketimbang menunjukkan integritas melalui pengunduran diri sukarela. Opini ini menegaskan bahwa pemulihan kepercayaan publik tidak cukup melalui tindakan administratif partai, tetapi harus dimulai dari revitalisasi budaya malu sebagai fondasi moral politik. Tanpa itu, praktik politik akan terus bersifat transaksional dan menjauhi kepentingan rakyat, sehingga memperdalam krisis legitimasi dan kepercayaan publik.

Item Type: Article
Subjects: B Philosophy. Psychology. Religion > BF Psychology > Philosophy. Relation to other topics
H Social Sciences > HM Sociology
H Social Sciences > HV Social pathology. Social and public welfare
Divisions: Website News
Depositing User: Stepanus Sigit Pranoto
Date Deposited: 09 Jul 2026 03:16
Last Modified: 09 Jul 2026 03:16
URI: http://eprints.ukmc.ac.id/id/eprint/15135

Available Versions of this Item

Actions (login required)

View Item View Item